Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta menegaskan, dana tersebut tidak akan diparkir dalam instrumen keuangan seperti surat berharga negara (SBN), melainkan langsung disalurkan ke pembiayaan, terutama ke segmen consumer banking yang memiliki efek berganda terhadap ekonomi.
"Enggak (digunakan untuk SBN), kita sementara ini kalau ada penempatan seperti itu di BSI memang langsung disalurkan karena beberapa kebutuhan," ujar Bob saat ditemui di Menara Radius Prawiro, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Bob melanjutkan, dana SAL tersebut tidak hanya akan disalurkan ke consumer banking yang merupakan portofolio utama BSI, tetapi juga untuk pembiayaan mitra guna, otomotif, haji, hingga emas.
"Emas batangan kita juga ada, termasuk gadai. Jadi disalurkan," ucapnya.
Kendati demikian, Bob belum dapat membeberkan nominal tambahan penempatan dana SAL ini untuk BSI.
Baca juga: Kaleidoskop 2025: Aliran Dana SAL Rp 276 Triliun dan Paradoks Lesunya Kredit Perbankan
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan pemerintah tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi.
Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista mengatakan, dana tambahan itu akan dikelola secara prudent dan disalurkan secara selektif ke sektor-sektor produktif.
"Dengan fokus pada penguatan ekonomi berbasis kerakyatan," kata Adhika kepada Kompas.com, Rabu.
Bank Mandiri juga menegaskan komitmen untuk memastikan penyaluran dilakukan secara efektif dan transparan agar memberikan dampak optimal bagi dunia usaha dan masyarakat.
Baca juga: Dana SAL Rp 276 T Sudah Masuk Bank, Kenapa Bunga Kredit Lambat Turun?
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambah penempatan dana pemerintah di Himbara senilai Rp 100 triliun.
"Seminggu sebelum Lebaran (sudah ditempatkan ke Himbara), saya tambah lagi Rp 100 triliun masukin ke sistem perekonomian," ujarnya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Purbaya menjelaskan, penempatan dana tersebut dimaksud melonggarkan likuiditas perbankan yang mulai mengetat yang tecermin dari kenaikan imbal hasil (yield) SBN.
"Kalau bond yield naik 0,1 persen, saya udah perhatiin, ada apa nih? Naik 0,4 persen, pasti kekeringan, kekurangan likuiditas di bank atau apa penyebabnya? Saya cek, oh betul bank kurang. Saya tambah lagi masukin ke sistem," jelas dia.
Baca juga: Dana SAL Terserap 93 Persen, BTN Percepat Dorong Kredit Perumahan
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.